هاليم کيتاب اوتام

سجق 1982

0%

لڠکاو ک کاندوڠن

Ihya Ulumuddin: Isi Kitab, Beda Edisi Kuning dan Putih, serta Cara Memilihnya

Kalau Anda sedang memilih Ihya Ulumuddin untuk perpustakaan pesantren atau untuk dibaca sendiri, keputusan terbesarnya bukan soal penerbit — melainkan berapa jilid, kertas apa, dan perlu syarah atau tidak. Tiga hal itu yang membedakan harga dan kenyamanan pakai, dan sering baru terasa setelah kitabnya sampai.

Artikel ini menjelaskan isi kitabnya secara ringkas, membandingkan edisi yang beredar di pasaran Indonesia, dan memberi patokan memilih untuk santri, pengajar, maupun pengadaan dalam jumlah banyak.

1. Apa Isi Ihya Ulumuddin?

Nama lengkapnya Ihya’ Ulum ad-Din — “menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”. Kitab ini disusun dalam empat bagian besar yang disebut rubu’, masing-masing berisi sepuluh kitab (bab), jadi totalnya empat puluh pembahasan:

  • Rubu’ Ibadat — ilmu, kaidah akidah, bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, adab membaca Al-Qur’an, zikir dan doa, serta wirid harian.
  • Rubu’ Adat — adab makan, nikah, mencari nafkah, halal-haram, pergaulan, uzlah, safar, amar ma’ruf nahi munkar, dan akhlak kenabian.
  • Rubu’ Muhlikat — hal-hal yang membinasakan: penyakit hati seperti amarah, dengki, cinta dunia, kikir, riya, sombong, dan tertipu.
  • Rubu’ Munjiyat — hal-hal yang menyelamatkan: taubat, sabar, syukur, khauf dan raja’, zuhud, tawakal, cinta, ikhlas, muhasabah, dan mengingat mati.

Susunan inilah yang membuat Ihya bertahan sebagai bacaan pesantren selama berabad-abad: ia bergerak dari amal lahir ke penyakit batin, lalu ke jalan keluarnya. Banyak pengajar memulai kajian bukan dari jilid satu, melainkan langsung dari Rubu’ Muhlikat karena bagian itu yang paling terasa dekat dengan persoalan sehari-hari.

2. Siapa Imam Al-Ghazali?

Penyusunnya Imam Al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam, ahli fiqih Syafi’i sekaligus ahli ushul dan tasawuf. Ihya ditulis setelah masa pengembaraannya meninggalkan jabatan mengajar di Baghdad — dan latar itu terasa di isinya: nadanya bukan nada dosen, tapi nada orang yang sedang membenahi dirinya sendiri.

Beliau juga menulis Minhajul Abidin, yang sering disebut sebagai ringkasan jalan yang sama dalam bentuk lebih padat. Di Indonesia, kitab itu punya syarah karya ulama Kediri, Syekh Ihsan Jampes, berjudul Sirajut Thalibin — salah satu karya ulama Nusantara yang dicetak dan dipakai luas di Timur Tengah.

3. Edisi yang Beredar: 4 Jilid Kuning vs 5 Jilid Putih

Isi teksnya sama. Yang berbeda adalah pembagian jilid, jenis kertas, dan konsekuensinya di harga serta kenyamanan membaca. Ini perbandingan dua edisi yang paling sering ditanyakan:

Aspek4 Jilid Kertas Kuning5 Jilid Kertas Putih
Jumlah jilid4 (satu rubu’ per jilid)5
KertasKuning, tidak memantulkan cahayaPutih, lebih terang dan kontras
Ketebalan per jilidLebih tebalLebih ringan dipegang
Cocok untukKajian pesantren, membaca lamaPerpustakaan, pembaca yang butuh kontras tinggi
CatatanPembagian per rubu’ memudahkan rujukan di kelasPenomoran jilid tidak sama dengan edisi 4 jilid

Soal kertas kuning versus putih sering dikira sekadar selera, padahal ada alasan praktisnya. Kertas kuning (sering disebut kertas kitab atau cream) memantulkan cahaya lebih sedikit, sehingga mata tidak cepat lelah saat membaca berjam-jam — dan pengajian kitab memang berjam-jam. Kertas putih memberi kontras huruf yang lebih tajam, membantu pembaca yang penglihatannya mulai berkurang atau ruangannya kurang terang.

Satu hal yang paling sering terlewat pada pengadaan: samakan edisi untuk satu angkatan. Kalau sebagian santri memegang edisi 4 jilid dan sebagian 5 jilid, nomor halaman tidak akan pernah cocok, dan pengajar kehilangan cara tercepat menunjuk rujukan di kelas.

4. Kapan Perlu Syarahnya?

Syarah Ihya yang paling masyhur adalah Ithaf Sadatil Muttaqin karya Az-Zabidi, terbit dalam 14 jilid. Isinya jauh melampaui penjelasan kalimat: di dalamnya ada takhrij hadits, penjelasan istilah, dan pembahasan perbedaan pendapat.

Patokan sederhananya:

  • Santri dan pembaca umum — cukup matan Ihya saja. Syarah 14 jilid justru memperlambat.
  • Pengajar — satu set syarah di meja pengajar sudah cukup untuk melayani satu pesantren.
  • Perpustakaan pesantren — layak dimiliki sebagai rujukan, terutama karena takhrij haditsnya (lihat bagian berikut).

5. Catatan tentang Hadits di Dalam Ihya

Perlu diketahui pembeli, karena ini kerap ditanyakan: sebagian hadits yang dikutip dalam Ihya diperbincangkan derajatnya oleh para ulama hadits. Imam Al-Ghazali menulis Ihya sebagai kitab akhlak dan tasawuf, bukan sebagai kitab himpunan hadits, sehingga penyeleksian sanad tidak menjadi fokusnya.

Karena itulah Al-Hafizh Al-Iraqi menyusun takhrij khusus untuk hadits-hadits Ihya, dan hasil takhrij itu lazim dicetak menyertai matan-nya. Az-Zabidi kemudian memperluasnya dalam Ithaf. Jadi bagi yang ingin membaca Ihya sambil memeriksa status haditsnya, sarananya sudah tersedia sejak lama dan tinggal dipilih edisinya.

Kami menyebutkan ini bukan untuk memihak satu pandangan, melainkan supaya pembeli tahu persis apa yang dibelinya — dan bisa menentukan sendiri apakah cukup matan, atau perlu sekalian yang bertakhrij.

6. Ihya Ulumuddin di Katalog Halim Kitab Utama

Kami menyediakan ketiga bentuk yang dibahas di atas, semuanya terbitan Dar Kutub Ilmiyah (Beirut):

Keempatnya masuk kategori Tashawuf / Akhlak, dan bisa ditelusuri bersama kitab Beirut lainnya di Kitab Impor (Beirut).

Stok yang kami miliki lebih banyak daripada yang tampil di web — termasuk ukuran, penerbit, dan cetakan lain yang belum sempat didata. Kalau edisi yang Anda cari tidak terlihat di katalog, tanyakan langsung.

7. Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ihya Ulumuddin ada berapa jilid?

Tergantung cetakannya. Isi kitabnya terbagi empat rubu’, sehingga banyak penerbit mencetaknya dalam 4 jilid. Ada juga cetakan 5 jilid yang membagi ulang isinya supaya tiap jilid lebih tipis. Syarahnya, Ithaf Sadatil Muttaqin, terbit dalam 14 jilid tersendiri.

Pilih kertas kuning atau putih?

Kuning untuk membaca lama karena tidak menyilaukan — ini pilihan mayoritas pesantren. Putih untuk kontras huruf yang lebih tajam, cocok bila ruang bacanya kurang terang atau penglihatan pembacanya sudah berkurang. Tidak ada yang lebih benar; sesuaikan dengan pemakainya.

Apakah Ihya Ulumuddin cocok untuk pemula?

Bisa, asal tidak dimulai dari awal secara berurutan. Banyak pengajar menyarankan mulai dari Rubu’ Muhlikat dan Munjiyat karena pembahasannya paling langsung menyentuh keseharian. Untuk yang benar-benar baru, Minhajul Abidin atau syarahnya, Sirajut Thalibin, lebih ringan sebagai pintu masuk.

Berapa minimal pembelian untuk harga grosir?

Diskon bertingkat mengikuti jumlah pengambilan — makin banyak, makin besar diskonnya, dan aturannya berbeda per penerbit. Anda bisa menghitung sendiri perkiraannya lewat simulasi rencana pembelian di website, atau langsung menanyakan penawaran untuk kebutuhan pesantren, sekolah, maupun toko.