Halim Kitab Utama

Sejak 1982

0%

Langsung ke konten

Memilih Mushaf Terjemah Melayu untuk Pembeli Malaysia

Mushaf yang beredar di Indonesia dan di Malaysia sama-sama Al-Qur'an, tapi keduanya melewati jalur pengesahan yang berbeda dan kerap memakai konvensi cetak yang berbeda pula. Untuk pembelian satuan, perbedaan itu jarang terasa. Untuk pembelian masjid, sekolah, atau toko, perbedaan itu justru yang paling menentukan.

1. Tashih: Siapa yang Mengesahkan

Di Indonesia, mushaf harus melewati tashih Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) di bawah Kementerian Agama. Tanda tashih itu tercetak di halaman awal, lengkap dengan nomor dan tahunnya.

Di Malaysia, kewenangan itu ada pada pihak berwenang setempat, dan mushaf yang diedarkan di sana umumnya membawa tanda pengesahannya sendiri. Karena itu mushaf terbitan Indonesia yang dikirim ke Malaysia perlu diperiksa lebih dulu status edarnya — terutama untuk pembelian institusi yang biasanya menuntut kejelasan ini.

2. Rasm: Cara Penulisannya

Mushaf standar Indonesia memakai rasm Utsmani dengan konvensi penulisan yang mengikuti Mushaf Standar Indonesia. Mushaf yang lazim di Malaysia banyak yang mengikuti konvensi cetak Timur Tengah, khususnya gaya Madinah.

Bagi pembaca, perbedaannya terasa pada bentuk sebagian tanda baca dan letak akhir halaman. Bagi penghafal, perbedaan itu bukan hal kecil: hafalan yang dibangun dari satu tata letak akan terganggu kalau mushafnya berganti tata letak di tengah jalan. Untuk keperluan tahfizh, keseragaman edisi lebih penting daripada apa pun.

3. Terjemahan Melayu, Bukan Terjemahan Indonesia

Ini yang paling sering tertukar. Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia berdekatan, tapi terjemahan Al-Qur'an keduanya berbeda — pilihan katanya, ejaannya, dan sebagian istilah keagamaannya. Mushaf terjemah Indonesia yang dikirim ke pembeli Malaysia tetap terbaca, tapi terasa asing, dan untuk pemakaian resmi biasanya kurang diterima.

Kalau pembelinya menyebut 'terjemahan Melayu', pastikan yang dimaksud memang edisi berbahasa Melayu, bukan edisi Indonesia yang kebetulan mirip.

4. Ukuran dan Peruntukan

Mushaf untuk masjid umumnya berukuran besar dengan huruf lapang, dijilid keras agar tahan dipakai bergantian. Mushaf untuk sekolah biasanya ukuran sedang, sering dengan terjemahan per kata atau tajwid berwarna. Mushaf saku untuk dibawa sehari-hari mengorbankan ukuran huruf demi keringkasan, dan kurang cocok untuk pembaca lanjut usia.

5. Yang Perlu Disebutkan Saat Memesan

Sebutkan empat hal: untuk siapa (masjid, sekolah, tahfizh, atau dijual kembali), perlu terjemahan bahasa apa, ukuran huruf yang diinginkan, dan apakah seluruh pesanan harus satu edisi yang sama. Yang terakhir sering terlewat, dan justru itu yang paling sulit diperbaiki setelah barang terkirim.

Halim Kitab Utama mendistribusikan mushaf dari berbagai penerbit Indonesia dan terbiasa melayani pembeli dari Malaysia dan Thailand. Hubungi lewat WhatsApp dengan keempat keterangan di atas — kami bantu pilihkan yang benar-benar cocok, bukan sekadar yang tersedia.