Larangan Menyembah Selain Allah
Tauhid merupakan ajaran pokok dalam kehidupan manusia. Al-Qur’an mengabadikan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mengesakan zat-Nya. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Mulia. Firman-Nya itu tertera di surah Al-Baqarah ayat 163 yang bunyinya sebagai berikut:
Lafaz Arab Surah Al-Baqarah Ayat 163
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ
Arab Latin: Wa ilāhukum ilāhuw wāḥid, lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm.
Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Menahan Amarah
Perintah pertama Allah yang diabadikan dalam kitab suci adalah agar manusia mampu menahan amarah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 134:
Lafaz Arab Surat Ali Imran Ayat 134
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
Arab Latin: Allażīna yunfiqụna fis-sarrā’i waḍ-ḍarrā’i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ketakmampuan mengendalikan amarah menjadi pemicu besar terjadinya pertengkaran dan perpecahan. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan amarah menjadi faktor penting dalam kehidupan.
Berperilaku Lemah Lembut dan Melarang Berkata Kasar
Allah SWT memerintahkan untuk berperilaku lemah lembut dan melarang berkata kasar sejatinya agar manusia terhindar dari jalan-jalan yang memungkinkan memicu lahirnya amarah. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 159 yang bunyinya sebagai berikut:
Lafaz Arab Surat Ali Imran Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Arab Latin: Fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa’fu ‘an-hum wastagfir lahum wa syāwir-hum fil-amr, fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn.
Artinya: “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
Rasulullah telah mencontohkan perilaku lemah lembut, sekalipun kepada orang yang memusuhi dirinya dan umat Islam. Perilaku ini pula yang menunjukkan adanya sikap kesatria pada diri seseorang. Bukan memaki apalagi mencaci, justru Rasulullah mengajarkan untuk saling mengasihi.
Berbuat Baik Kepada Setiap Orang
Tidak perlu membalas perilaku buruk dengan hal yang serupa. Akan tetapi, balaslah dengan kebaikan. Ini pula yang Rasulullah ingin agar diteladani umat Muslim. Perintah untuk berbuat baik kepada setiap orang juga tertuang dalam Surah An-Nisa ayat 36:
Lafaz Arab Surat An-Nisa Ayat 36
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Arab Latin: Wa’budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai’aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan fakhụrā.
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Larangan Sombong dan Congkak
Sombong merupakan penyakit hati paling tua dalam sejarah umat manusia. Sikap sombong inilah yang menjadikan iblis terusir dari surga lantaran enggan menjalankan perintah Allah SWT untuk sujud kepada Nabi Adam AS. Perintah untuk tidak sombong dan congkak tertera dalam surat Al-A’raf ayat 13:
Lafaz Arab Surat Al-A’raf Ayat 13
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ
Arab Latin: Qāla fahbiṭ min-hā fa mā yakụnu laka an tatakabbara fīhā fakhruj innaka minaṣ-ṣāgirīn.
Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”
Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Adapun 10 perintah Allah kepada manusia berikutnya adalah memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman dalam surah Al-Araf ayat 199 yang bunyinya sebagai berikut:
Lafaz Arab Surat Al-Araf Ayat 199
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Arab Latin: Khużil-‘afwa wa’mur bil-‘urfi wa a’riḍ ‘anil-jāhilīn.
Artinya: “Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.”
Dalam Islam, sikap memaafkan merupakan perbuatan mulia. Sebab keberanian untuk memaafkan kesalahan orang lain bukanlah hal yang mudah. Apalagi manusia merupakan makhluk yang tidak lepas dari kesalahan dalam hidupnya. Sikap memaafkan juga merupakan salah satu sifat Allah Yang Maha Mulia. Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia meneladani sifat Allah yang terpuji ini.
Perintah Berbakti Kepada Orang Tua
Dalam Islam, rida Allah berada pada ridanya orang tua. Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab jasa orang tua kepada sang anak tetap hidup sepanjang masa. Tidak berlebihan pula jika Allah memerintahkan kepada umat-Nya untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 23 yang bunyinya sebagai berikut:
Lafaz Arab Surat Al-Isra Ayat 23
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Arab Latin: Wa qaḍā rabbuka allā ta’budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna ‘indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā.
Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Larangan Mendekati Zina
Sejatinya larangan mendekati zina dalam Islam merupakan kemuliaan dan penjagaan Allah bagi manusia beserta keturunannya. Sebab zina adalah perbuatan keji yang sangat jelas keburukannya. Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 32:
Lafaz Arab Surat Al-Isra Ayat 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Arab Latin: Wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā’a sabīlā.
Artinya: “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.”
Larangan Mengejek Orang Lain
Belakangan, media sosial menjadi tempat bagi pengguna tidak bertanggung jawab yang kerap digunakan sebagai wadah mengejek, menghina, bahkan mencela orang lain. Allah memerintahkan di dalam Al-Quran kepada orang-orang yang beriman agar tidak mengejek satu sama lain. Firman-Nya tersebut tertuang dalam surah Al-Hujurat ayat 11:
Lafaz Arab Surat Al-Hujurat Ayat 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Arab Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin ‘asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā’um min nisā’in ‘asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi’sa lismul-fusụqu ba’dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā’ika humuẓ-ẓālimụn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. “
Perintah untuk Berlaku Adil
Perintah Allah kepada manusia yang terakhir adalah untuk berlaku adil. Keadilan harus ditegakkan dalam setiap aspek kehidupan. Perilaku adil menjadi salah satu pondasi untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Allah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 58:
Lafaz Arab Surat An-Nisa Ayat 58
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Arab Latin: Innallāha ya’murukum an tu’addul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumụ bil-‘adl, innallāha ni’immā ya’iẓukum bih, innallāha kāna samī’am baṣīrā.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
